Upaya Maluku Menuju Bebas Malaria 2030
Patrolinews.id, AMBON – Pemerintah Indonesia menargetkan bebas malaria pada tahun 2030 sebagai bagian dari prioritas pembangunan nasional, sejalan dengan visi menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045.
Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Parasitologi di Universitas Pattimura, Senin (11/8/2025), Prof. Dr. Maria Nindatu, Dra., M.Kes menegaskan bahwa, eliminasi malaria di wilayah kepulauan, khususnya Maluku, membutuhkan harmonisasi seluruh sumber daya, riset terpadu, serta pemberdayaan potensi lokal.
“Program eliminasi yang kita lakukan bukan sekadar menurunkan angka kasus, tetapi mengembalikan keseimbangan dengan alam, memanfaatkan tanaman obat lokal seperti cempeda, lemburung meit, kayu titi, sambiloto, dan lamun, sebagai bagian dari strategi mempertahankan imunitas masyarakat,” ujarnya.
Upaya ini, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pengendalian vektor nyamuk dan pengawasan lintas sektor yang berkesinambungan.
Strategi Eliminasi dan Tantangan di Wilayah Kepulauan
Berdasarkan data capaian nasional, Provinsi Maluku kini berada di zona kuning penyebaran malaria dengan tingkat keberhasilan di atas 70% menuju target bebas malaria pada tahun 2028. Capaian ini didukung regulasi seperti Permenkes Nomor 22 Tahun 2022 tentang penanggulangan malaria, Permenkes Nomor 15 Tahun 2018 tentang pelayanan kesehatan tradisional integrasi, dan Permenkes Nomor 32 Tahun 2022 tentang Sentra Penapisan dan Pengembangan Penyehatan Kesehatan Tradisional (SP3T).
Meski demikian, Prof. Maria mengingatkan adanya tantangan baru, yakni mobilitas penduduk dari wilayah endemis tinggi ke daerah bebas malaria, khususnya melalui Kota Ambon sebagai pintu transit wilayah timur Indonesia.
“Kita perlu mewaspadai transmisi silang yang dapat mengancam daerah bebas malaria, sehingga pengawasan dan riset terintegrasi harus terus diperkuat,” tegasnya.
Harapan dan Solusi Menuju Maluku Bebas Malaria
Prof. Maria menekankan bahwa, keberhasilan eliminasi malaria tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat menjaga sanitasi, mencegah reinfeksi, dan mendukung pengendalian lingkungan.
Ia mendorong pengembangan inovasi berbasis potensi lokal, seperti produk nutraceutical berantioksidan tinggi untuk meningkatkan daya tahan tubuh di daerah endemis. Selain itu, pemetaan wilayah yang belum mencapai tingkat keberhasilan 95% menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memutus rantai penularan nyamuk Anopheles sp.
“Jika seluruh elemen bersatu pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat maka bebas malaria bukan hanya slogan, tetapi kenyataan yang akan kita capai bersama,” pungkasnya.
PatroliNews.id – Untuk Rakyat, Fakta dan Keberanian Menyuarakan Kebenaran.















