PatroliNews.id, Maluku — Politeknik Negeri Ambon melalui program penelitian Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) tahun 2025 mulai memfokuskan pengembangan penelitian terapan di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, dengan menyoroti persoalan abrasi dan gelombang ekstrem yang selama ini mengancam kawasan pesisir Pantai Akoon. Kajian tersebut menjadi bagian dari skema penelitian mitra binaan yang diarahkan untuk menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang terdampak langsung oleh perubahan kondisi laut saat musim timur.
Penelitian dipimpin oleh Isak Lilipory bersama tim peneliti Politeknik Negeri Ambon dengan mengangkat tema “Pemodelan Bangunan Pengaman Pesisir Pantai Akoon dalam Menghadapi Musim Timur”. Fokus utama penelitian ialah merancang sistem perlindungan pantai yang mampu mereduksi energi gelombang laut dari arah Laut Banda yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman bagi aktivitas masyarakat setempat.
Pantai Akoon diketahui berada pada wilayah yang langsung berhadapan dengan Laut Banda di sisi timur Pulau Nusalaut. Kondisi geografis tersebut menyebabkan kawasan pesisir mengalami tekanan gelombang tinggi ketika musim timur berlangsung pada April hingga Oktober. Dalam periode itu, tinggi gelombang dapat mencapai sekitar 1,75 meter dan menghambat aktivitas nelayan saat menambatkan perahu.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan ekonomi keluarga pada sektor perikanan dan perkebunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk Akoon mencapai 578 jiwa dengan mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani kebun. Ketika gelombang tinggi terjadi, para nelayan terpaksa memindahkan tambatan perahu ke sisi lain pulau yang lebih aman demi menghindari kerusakan armada maupun risiko kecelakaan laut.
Selain ancaman terhadap aktivitas perikanan, tekanan gelombang juga berpotensi mempercepat kerusakan garis pantai. Di lokasi penelitian memang telah terdapat bangunan pelindung sederhana berupa pasangan batu di sepanjang pesisir. Namun konstruksi tersebut dinilai belum efektif menghadapi gelombang besar karena hanya berfungsi melindungi area permukiman dan belum mampu menahan energi gelombang secara maksimal.
Melalui penelitian ini, tim peneliti melakukan pengumpulan data angin dan pasang surut laut sebagai dasar pemodelan karakteristik gelombang. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menghasilkan proyeksi gelombang datang dan gelombang tiba di kawasan pesisir Pantai Akoon. Kajian dilakukan dengan mempertimbangkan pola dan durasi muson timur agar desain bangunan pengaman pantai dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
Hasil awal penelitian menunjukkan kebutuhan pembangunan sistem pemecah gelombang atau breakwater sebagai solusi utama perlindungan pesisir. Tim peneliti merancang penempatan tiga unit pemecah gelombang secara berderet atau series untuk meredam kekuatan gelombang sebelum mencapai bibir pantai dan area tambatan nelayan.
Konsep bangunan pengaman tersebut diharapkan tidak hanya mampu mengurangi abrasi, tetapi juga menciptakan area perairan yang lebih tenang sehingga aktivitas tambat perahu masyarakat dapat berlangsung lebih aman selama musim timur. Rancangan itu sekaligus menjadi rekomendasi teknis yang nantinya dapat digunakan pemerintah daerah maupun instansi terkait dalam pengembangan infrastruktur pesisir berbasis mitigasi bencana.
Penelitian P3M Politeknik Negeri Ambon ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat kepulauan melalui pendekatan ilmiah dan teknologi terapan. Kehadiran solusi berbasis riset diharapkan mampu memperkuat ketahanan wilayah pesisir Nusalaut sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.







