Penelitian P3M Polnam Fokus Atasi Ancaman Gelombang Ekstrem di Pantai Akoon Nusalaut

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PatroliNews.id, Maluku — Politeknik Negeri Ambon melalui program penelitian Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) tahun 2025 mulai memfokuskan pengembangan penelitian terapan di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, dengan menyoroti persoalan abrasi dan gelombang ekstrem yang selama ini mengancam kawasan pesisir Pantai Akoon. Kajian tersebut menjadi bagian dari skema penelitian mitra binaan yang diarahkan untuk menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang terdampak langsung oleh perubahan kondisi laut saat musim timur.

Penelitian dipimpin oleh Isak Lilipory bersama tim peneliti Politeknik Negeri Ambon dengan mengangkat tema “Pemodelan Bangunan Pengaman Pesisir Pantai Akoon dalam Menghadapi Musim Timur”. Fokus utama penelitian ialah merancang sistem perlindungan pantai yang mampu mereduksi energi gelombang laut dari arah Laut Banda yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman bagi aktivitas masyarakat setempat.

Pantai Akoon diketahui berada pada wilayah yang langsung berhadapan dengan Laut Banda di sisi timur Pulau Nusalaut. Kondisi geografis tersebut menyebabkan kawasan pesisir mengalami tekanan gelombang tinggi ketika musim timur berlangsung pada April hingga Oktober. Dalam periode itu, tinggi gelombang dapat mencapai sekitar 1,75 meter dan menghambat aktivitas nelayan saat menambatkan perahu.

Baca Juga :  BPBD Maluku Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Konflik Sosial di Hunuth-Durian Patah

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan ekonomi keluarga pada sektor perikanan dan perkebunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk Akoon mencapai 578 jiwa dengan mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani kebun. Ketika gelombang tinggi terjadi, para nelayan terpaksa memindahkan tambatan perahu ke sisi lain pulau yang lebih aman demi menghindari kerusakan armada maupun risiko kecelakaan laut.

Selain ancaman terhadap aktivitas perikanan, tekanan gelombang juga berpotensi mempercepat kerusakan garis pantai. Di lokasi penelitian memang telah terdapat bangunan pelindung sederhana berupa pasangan batu di sepanjang pesisir. Namun konstruksi tersebut dinilai belum efektif menghadapi gelombang besar karena hanya berfungsi melindungi area permukiman dan belum mampu menahan energi gelombang secara maksimal.

Melalui penelitian ini, tim peneliti melakukan pengumpulan data angin dan pasang surut laut sebagai dasar pemodelan karakteristik gelombang. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menghasilkan proyeksi gelombang datang dan gelombang tiba di kawasan pesisir Pantai Akoon. Kajian dilakukan dengan mempertimbangkan pola dan durasi muson timur agar desain bangunan pengaman pantai dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.

Baca Juga :  Bawaslu Maluku Tingkatkan Pengawasan Pemilu: Evaluasi Politik Uang dan Persiapan Pemilu Bersih 2026

Hasil awal penelitian menunjukkan kebutuhan pembangunan sistem pemecah gelombang atau breakwater sebagai solusi utama perlindungan pesisir. Tim peneliti merancang penempatan tiga unit pemecah gelombang secara berderet atau series untuk meredam kekuatan gelombang sebelum mencapai bibir pantai dan area tambatan nelayan.

Konsep bangunan pengaman tersebut diharapkan tidak hanya mampu mengurangi abrasi, tetapi juga menciptakan area perairan yang lebih tenang sehingga aktivitas tambat perahu masyarakat dapat berlangsung lebih aman selama musim timur. Rancangan itu sekaligus menjadi rekomendasi teknis yang nantinya dapat digunakan pemerintah daerah maupun instansi terkait dalam pengembangan infrastruktur pesisir berbasis mitigasi bencana.

Penelitian P3M Politeknik Negeri Ambon ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat kepulauan melalui pendekatan ilmiah dan teknologi terapan. Kehadiran solusi berbasis riset diharapkan mampu memperkuat ketahanan wilayah pesisir Nusalaut sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.

Berita Terkait

Raker INKINDO Maluku Rumuskan Program Strategis untuk Empat Tahun Mendatang
Gubernur Maluku Tinjau Kesiapan Groundbreaking Blok Masela di Tanimbar
Revitalisasi Legenda Ninivala, Warisan Budaya Maluku Kembali Hidup dari Balik Layar Menuju Panggung Budaya
Konsolidasi Hanura Maluku Menguat, DPD Serahkan Persetujuan Calon Ketua DPC untuk 11 Kabupaten/Kota
Willyam Ricard Lomo Terima Mandat Ketua DPC Hanura Maluku Tengah, Siap Perkuat Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Kajian Ilmiah Jadi Dasar Penataan Pengelolaan Tambang Emas Gunung Botak
Michael Wattimena Tegaskan Era Baru Penegakan Hukum Pertambangan, Ditjen Gakkum Perkuat Pengawasan dan Buka Peluang Besar bagi Maluku
SD Negeri 4 Ambon Tutup Tahun Pelajaran 2025/2026 dengan Expo Pentas Seni, Tampilkan Bakat dan Budaya Maluku

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:32 WIB

Raker INKINDO Maluku Rumuskan Program Strategis untuk Empat Tahun Mendatang

Senin, 13 Juli 2026 - 11:19 WIB

Gubernur Maluku Tinjau Kesiapan Groundbreaking Blok Masela di Tanimbar

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:24 WIB

Revitalisasi Legenda Ninivala, Warisan Budaya Maluku Kembali Hidup dari Balik Layar Menuju Panggung Budaya

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:46 WIB

Konsolidasi Hanura Maluku Menguat, DPD Serahkan Persetujuan Calon Ketua DPC untuk 11 Kabupaten/Kota

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:06 WIB

Willyam Ricard Lomo Terima Mandat Ketua DPC Hanura Maluku Tengah, Siap Perkuat Konsolidasi Menuju Pemilu 2029

Berita Terbaru