PatroliNews.id, Maluku – Harly Hataul, Anggota DPRD Maluku Tengah dari Fraksi Gerindra, dan dan salah satu putra Jasira Leihitu, mengecam keras dan tanpa kompromi pernyataan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, yang sempat menyebut:
“Pemerintahan ini tidak produktif… Pemerintahan 2025 ini tidak produktif, alasannya apa, di episode berikutnya.”
Harly menegaskan, ucapan Wagub bukan sekadar kritik, tapi seperti melempar bom ke tengah masyarakat. Kata-kata itu memantik kegaduhan, memecah persaudaraan, dan merusak stabilitas pemerintahan.
“Seorang Wakil Gubernur tidak boleh berbicara seenaknya! Jangan jadi biang kekacauan di tengah rakyat! Rakyat bukan boneka drama politik, mereka bukan alat untuk bermain kata-kata yang bikin gaduh! Sebagai pemimpin, seharusnya menjadi penyejuk, bukan pemantik konflik yang bikin Maluku resah,” tegas Harly kepada Patrolinews.id melalui telepon selulernya, Jumat, 28 November 2025.
Harly mengingatkan, banyak contoh nyata yang terjadi: demo berujung ricuh, perkelahian antar pendemo, bahkan kebakaran kecil terjadi karena ketegangan yang bisa dicegah, jika pejabat mau berpikir sebelum bicara.
“Kalau pucuk pimpinan sendiri bikin gaduh, bagaimana rakyat bisa tenang? Bagaimana investor berani masuk ke Maluku kalau pejabat tinggi malah bikin rakyat bingung dan resah?” kritiknya tajam.
Menurut Harly, Wagub harusnya menjadi teladan ketenangan, bukan menyebar kata-kata yang memecah belah rakyat dan membuat Maluku tampak rapuh.
“Ini soal tanggung jawab moral. Kata-kata sembarangan bisa menjadi bom waktu bagi Maluku! Jangan sampai ucapan pejabat bikin rakyat takut, persaudaraan retak, dan peluang pembangunan hilang,” ujar Harly.
Harly menekankan, semua persoalan internal harus diselesaikan dengan kepala dingin, saling menghargai, dan melalui jalur resmi, bukan diumbar ke publik sehingga memicu spekulasi liar.
“ Maluku butuh stabilitas, damai, dan pembangunan, bukan drama politik yang bikin rakyat bingung dan investor lari. Bagaimana investor mau datang kalo Maluku tidak aman? Wagub sebaiknya memberi contoh baik bagi masyarakat. Rakyat bukan boneka untuk dimainkan dalam drama politik!”, pungkasnya.
Ia menegaskan lagi, seorang Wakil Gubernur harus menjadi simbol kedewasaan, keamanan, dan teladan, bukan biang konflik yang bisa memecah-belah rakyat.
“Pikir dulu sebelum bicara! Maluku ini butuh kedamaian, bukan kata-kata yang menusuk hati rakyat! Mari sama-sama bangun Maluku, jangan hancurkan dengan ucapan sembarangan,” tutup Harly.
PatroliNews.id – Berita terkini, Fakta, Nyata dan Keberanian Menyuarakan Kebenaran















