PatroliNews.id, Ambon, 11 Februari 2026 – Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menggelar Rapat Terbuka Luar Biasa Senat dalam rangka Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela, S.Si., M.Si., di Aula Lantai 2 Gedung Rektorat Unpatti, Rabu (11/2/2026). Akademisi dari Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi itu menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Penerapan Proses Poisson dan Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk Waktu Tunggu Gempa di Wilayah Maluku dan Sekitarnya.”
Dalam pidatonya, Prof. Henry menegaskan bahwa, Maluku sebagai salah satu kawasan tektonik paling aktif di Indonesia membutuhkan pendekatan ilmiah yang presisi dan berbasis data dalam membaca pola kegempaan. Melalui penerapan Proses Poisson dan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE), ia menghadirkan model matematis untuk menghitung estimasi waktu tunggu (recurrence time) gempa bermagnitudo tertentu di berbagai sub-wilayah Maluku.
Mayoritas Gempa Dangkal, Magnitudo Rata-rata 4,37 Mw
Hasil studi menunjukkan sebagian besar gempa di Maluku terjadi pada kedalaman 0–200 kilometer dengan magnitudo rata-rata 4,37 Mw. Secara spasial, wilayah dengan frekuensi gempa tertinggi meliputi Laut Banda, Kepulauan Barat Daya, Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau Lease, Pulau Babar, Pulau Leti, Pulau Wetar, hingga Papua Barat, khususnya Kaimana dan sekitarnya.
Berdasarkan pembagian sub-wilayah, A10 tercatat memiliki frekuensi gempa sangat tinggi, diikuti sub-wilayah A dan A6. Sebaliknya, sub-wilayah Ap menunjukkan frekuensi relatif rendah.
Analisis nilai b dalam model Gutenberg-Richter memperlihatkan variasi potensi gempa besar di tiap wilayah. Sub-wilayah A7, A10, dan A11 memiliki nilai b rendah yang mengindikasikan potensi relatif lebih besar untuk gempa kuat, sedangkan A12, A3, dan A memiliki nilai b tinggi dengan dominasi gempa kecil.
Estimasi Waktu Tunggu Gempa Besar
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah estimasi waktu tunggu gempa bermagnitudo besar:
- Sub-wilayah A, A10, dan A11 berpotensi mengalami gempa M ≥ 6,0 Mw setiap ±1 tahun, dan M ≥ 7,0 Mw setiap 5–10 tahun.
- Sub-wilayah A4, A5, A6, A8, dan A9 memiliki estimasi waktu tunggu M ≥ 6,0 Mw setiap 5–27 tahun.
- Sub-wilayah A12 tergolong paling stabil, dengan estimasi waktu tunggu M ≥ 6,0 Mw sekitar ±6.458 tahun dan M ≥ 7,0 Mw hingga sekitar 1,2 juta tahun.
Menurut Prof. Henry, pola tersebut menunjukkan hubungan erat antara frekuensi gempa, kedalaman, serta kondisi geotektonik regional Maluku yang berada pada zona pertemuan beberapa lempeng aktif dunia.
Dari Mitigasi hingga Perencanaan Pembangunan
Pengukuhan ini tidak sekadar capaian akademik personal, tetapi memiliki implikasi strategis bagi pembangunan daerah. Setidaknya terdapat beberapa keunggulan nyata bagi Maluku dari hasil riset ini:
- Dasar Ilmiah Revisi RTRW Model matematis yang dihasilkan dapat menjadi rujukan kuantitatif dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), terutama dalam penentuan zona rawan gempa dan pengendalian pembangunan di wilayah risiko tinggi.
- Penentuan Zona Prioritas Mitigasi Sub-wilayah A7, A10, dan A11 direkomendasikan sebagai zona perhatian utama dalam mitigasi bencana, termasuk penguatan infrastruktur dan edukasi kebencanaan.
- Pembaruan Peta Bahaya Gempa Data berbasis statistik ini dapat memperkaya pembaruan peta bahaya gempa Maluku agar lebih presisi dan adaptif terhadap dinamika aktivitas seismik.
- Efisiensi Perencanaan Investasi dan Infrastruktur Informasi waktu tunggu gempa membantu pemerintah dan investor dalam merancang bangunan tahan gempa serta menentukan prioritas pembangunan berkelanjutan.
- Penguatan Posisi Akademik Unpatti Riset ini menegaskan peran Universitas Pattimura sebagai pusat kajian kebencanaan berbasis sains di kawasan timur Indonesia.
Sains untuk Keselamatan Publik
Dalam pidatonya, Prof. Henry menyampaikan bahwa, pemilihan tema ini dilandasi oleh kebutuhan mendesak akan pendekatan ilmiah yang terukur dalam menghadapi risiko gempa di Maluku. Selama ini, masyarakat lebih banyak mengenal gempa dari sisi dampaknya, namun belum banyak kajian yang menitikberatkan pada estimasi probabilistik waktu kejadian berikutnya secara matematis.
“Tujuan utama penelitian ini adalah menghadirkan instrumen analisis yang dapat digunakan pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk merumuskan strategi mitigasi berbasis data, bukan sekadar respons reaktif,” tegasnya.
Dengan pengukuhan ini, Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela resmi menyandang jabatan akademik tertinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Lebih dari sekadar seremoni, momentum ini menjadi penanda kontribusi nyata ilmu matematika dalam menjawab tantangan geotektonik Maluku, mengubah angka dan probabilitas menjadi pijakan kebijakan demi keselamatan masyarakat.
PatroliNews.id – Berita terkini, Fakta, Nyata dan Keberanian Menyuarakan Kebenaran















