PatroliNews.id | Ambon – Legenda rakyat Maluku kembali memperoleh ruang di tengah masyarakat melalui kegiatan “Revitalisasi Legenda Ninivala: Dari Balik Layar Menuju Panggung Budaya” yang digelar di Teater Paulus Peea, Taman Budaya Provinsi Maluku, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali cerita rakyat sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui kolaborasi seni pertunjukan, musik, tari, dan film.
Program revitalisasi ini diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku bekerja sama dengan Sanggar Lima Belas, melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2026. Mengusung tema “Dari Balik Layar Menuju Panggung Budaya”, kegiatan ini bertujuan membawa kembali cerita rakyat yang sebelumnya hanya terdokumentasi dalam penelitian dan film agar hadir sebagai pertunjukan yang hidup di hadapan masyarakat.
Acara diawali dengan penampilan Grup Ukulele SD Inpres 48 Ambon, kemudian dilanjutkan dengan Laporan Penyelenggaraan Teknis yang disampaikan oleh Prihe Letlora, S.S., M.Hum, selaku Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku.
Dalam laporannya, Prihe Letlora menegaskan bahwa Legenda Ninivala merupakan salah satu harta budaya tak ternilai milik masyarakat Maluku yang lahir dari tradisi lisan dan mengandung nilai keberanian, kesetiaan, pengorbanan, kecintaan terhadap tanah leluhur, serta penghormatan terhadap adat dan kemanusiaan. Menurutnya, revitalisasi ini bukan sekadar mengulang cerita lama, melainkan menghidupkan kembali makna yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini. Ia juga menjelaskan bahwa tema “Dari Balik Layar Menuju Panggung Budaya” bermakna membawa cerita rakyat keluar dari ruang dokumentasi menuju ruang pertunjukan agar dapat disaksikan, dirasakan, dan dimaknai bersama oleh masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi lahirnya karya-karya seni baru di bidang musik, tari, teater, sastra, maupun film.
Prihe Letlora turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Maluku, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, tokoh adat Desa Piliana, Sanggar Lima Belas, SD Inpres 48 Ambon, SMP Negeri 22 Ambon, Ambon Reality Music, media, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku.
Dalam sambutan Kepala Dinas yang dibacakan Kepala Bidang Kebudayaan, ditegaskan bahwa revitalisasi budaya merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Presiden Nomor 114 Tahun 2022 tentang Strategi Kebudayaan. Pemerintah Provinsi Maluku berkomitmen menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan pembangunan melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya daerah. Kebudayaan dipandang bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sebagai sumber kreativitas, inovasi, pembentukan karakter bangsa, hingga penggerak ekonomi berbasis budaya. Masyarakat dan pelaku seni juga diajak untuk terus menggali nilai-nilai lokal serta menghadirkan inovasi agar karya seni Maluku mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Usai pembukaan, panggung budaya semakin semarak dengan penampilan Tarian Katreji yang dibawakan oleh siswa-siswi SMP Negeri 22 Kota Ambon. Tarian tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Maluku tersebut berhasil memukau para tamu undangan melalui penampilan yang enerjik dan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi.
Suasana kemudian memasuki nuansa yang lebih emosional melalui penampilan Theme Song “NINIVALA”, lagu ciptaan Stane Latumahina yang dibawakan oleh SL Band dengan duet vokal Stane Latumahina dan Lola Abrahams. Lagu tersebut menjadi pengantar artistik yang menggambarkan kekuatan cinta, pengorbanan, dan nilai kemanusiaan yang terkandung dalam kisah Legenda Ninivala.
Pertunjukan dilanjutkan dengan Tarian Legenda Ninivala, yang mengangkat kisah tragis Ninivala, Wele, dan Levina. Cerita rakyat tersebut mengisahkan perjalanan cinta yang berujung pada kutukan hingga berubah menjadi pohon yang menurut cerita masyarakat adat masih berdiri di kawasan Air Ninivala, Sungai Nua, Desa Piliana, Pulau Seram. Kisah itu dikemas dalam balutan koreografi modern tanpa menghilangkan filosofi dan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai penutup, para tamu diajak menyaksikan Film Dokudrama Legenda Ninivala, sebuah karya audiovisual yang mengangkat kembali cerita rakyat Maluku sebagai media dokumentasi, edukasi, sekaligus pelestarian budaya bagi generasi muda.
Ketua Sanggar Lima Belas, Stane Siegmund Latumahina, mengatakan bahwa revitalisasi Legenda Ninivala merupakan bentuk komitmen untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Maluku melalui pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Legenda Ninivala bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi merupakan identitas budaya Maluku yang harus terus dikenalkan melalui berbagai medium, baik seni pertunjukan maupun film, sehingga tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, cerita Legenda Ninivala yang menjadi dasar pertunjukan dan film dokudrama ditulis oleh Gatot Halauw, melalui proses penelusuran sejarah lisan dan penelitian lapangan di Pulau Seram. Cerita tersebut kembali menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal, sejarah, serta pesan moral yang hidup dalam masyarakat adat Maluku.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku, perwakilan Rektor IAKN Ambon, Ketua Ambon Music Office (AMO), jajaran Ambon Reality Music (ARM), Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku, para musisi, budayawan, akademisi, pelaku seni, media, serta masyarakat pecinta budaya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Maluku bersama UPTD Taman Budaya Provinsi Maluku dan Sanggar Lima Belas berharap Legenda Ninivala tidak lagi hanya hidup sebagai cerita lisan, tetapi terus berkembang menjadi karya seni pertunjukan, musik, sastra, dan film yang mampu memperkuat identitas budaya Maluku sekaligus menginspirasi lahirnya karya-karya kreatif bagi generasi mendatang.















