PatroliNews.id, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap dampak signifikan dari konflik geopolitik antara Israel dan Iran terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Dalam konferensi pers APBN KiTA yang digelar pada Rabu (18/6/2025), ia menjelaskan bahwa, ketegangan ini telah mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 8 persen, dari sekitar 70 dolar AS menjadi 78 dolar AS per barel.
Menurut Sri Mulyani, lonjakan harga ini tidak hanya dipicu oleh dinamika pasar, tetapi juga oleh disrupsi keamanan global yang mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Ketidakpastian ini turut melemahkan permintaan global, memicu inflasi, dan menekan pertumbuhan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global Mei 2025 turun ke angka 49,6, sementara Indonesia sendiri tercatat di posisi 47,4, menunjukkan perlambatan signifikan dalam aktivitas industri.
Dampaknya bagi Indonesia juga terasa pada penurunan permintaan ekspor, fluktuasi nilai tukar, serta kenaikan biaya utang luar negeri. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari IMF dan Bank Dunia juga telah direvisi turun, masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,3 persen untuk tahun 2025.
Meski demikian, indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat sebesar 4,87 persen, inflasi rendah di angka 1,6 persen, dan konsumsi listrik serta penjualan semen mengalami peningkatan. Indeks kepercayaan konsumen juga tetap tinggi di level 117,5.
Sri Mulyani menegaskan bahwa, kekuatan fiskal melalui APBN menjadi bantalan utama menghadapi guncangan global. Hingga akhir Mei 2025, pendapatan negara mencapai Rp995,3 triliun, sementara belanja negara sebesar Rp1.016,3 triliun tetap diarahkan untuk mendukung program strategis nasional. Dengan defisit yang terkendali pada 0,09 persen dari PDB dan surplus keseimbangan primer sebesar Rp192,1 triliun, APBN dinilai masih dalam kondisi sehat dan responsif menghadapi tekanan global.
“Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dan kebijakan fiskal secara hati-hati namun adaptif,” tutup Sri Mulyani.















